Rabu, 02 Oktober 2013

Kajian Drama Indonesia


Nama              : Diani Setiawati
Kelas               : 5C
NIM                : 2222111920
Diksatrasia
Menentukan Kajian Isi Pada Drama
Jam Dinding yang Berdetak Karya Nano Riantiarno
1.      Karakter (Tokoh dan Penokohan)
a.       Tokoh Mama: Marie Pattiwael
Pada drama Jam Dinding yang Berdetak ini, tokoh Mama termasuk ke dalam tokoh utama dari semua peristiwa maupun konflik cerita. Yang dimana, di dalam drama ini banyak sekali cerita yang menghadirkan tokoh Mama dalam sebuah permasalahan. Tokoh Mama juga termasuk ke dalam tokoh sentral, yaitu seorang tokoh yang berpotensi menggerakkan alur dari semua konflik yang ada.
Dilihat dari karakter ataupun wataknya. Tokoh Mama memiliki sifat yang suka mempertahankan pendapatnya atau sifat keras kepala. Hal itu terlihat jelas, ketika Mama sedang mempeributkan masalah pekerjaan Benny terhadap Magda. Tokoh Mamapun memiliki sifat egois yang hanya mementingkan kepribadiannya saja. Hal itu terlihat jelas, saat pertengkarannya terjadi dengan sang Papa. Pertengkaran itu terjadi ketika tokoh Papa mulai merasa kecewa dengan tokoh Mama, yang hanya mementingkan pribadinya saja. Ketimbang, sang suami yang sedang menderita. Namun di sisi lain, tokoh Mama memiliki sifat keibuan terhadap anak-anaknya, serta penyabar menghadapi semua konflik yang timbul menerpa sang Mama.
b.      Tokoh Papa: Thomas Pattiwael
Tokoh Papa dalam drama Jam Dinding yang Berdetak ini memiliki kemiripan penempatan tokoh dengan tokoh Mama. Yaitu, sama-sama sebagai tokoh Utama dari setiap konflik ataupun alur sebuah cerita yang dimana selalu memunculkan tokoh yang sama di setiap adegannya. Dilihat dari karakter ataupun sifat tokohnya, tokoh Papa termasuk tokoh yang memiliki sifat cenderung mempermainkan hati seorang wanita. Walaupun menurutnya, hal itu dilakukan atas dasar kekecewaan semata terhadap sang istri. Mungkin, hal itu bisa disamakan sebagai pemberontakan suami atas dasar sifat dan tingkah laku istri yang tidak baik terhadap dirinya. Sifat lain yang dimiliki tokoh Papa yaitu masa bodoh pada setiap permasalahan keluarga yang menimpanya. Baginya, ia kerja mendapatkan uang hanya sekedar menutupi kekurangan keluarganya saja. Karena baginya, mabuk itu sangatlah menyenangkan demi hidupya yang menderita. Di sisi lain, tokoh Papa termasuk tipe orang yang bijak, penyabar dari setiap ocehan sang istri padanya. Serta memiliki sifat kebapakan terhadap anak-anaknya.
c.       Toko Benny
Tokoh pada drama Jama Dinding yang Berdetak ini, termasuk ke dalam tokoh bawahan. Yaitu, tokoh yang tidak begitu besar pengaruhnya terhadap prkembangan alur, walaupun ia terlibat juga dalam pengembangan alur itu. Jika dilihat dari karakter tokohnya, tokoh Benny memiliki sifat yang bijak dalam menyelesaikan permasalahan dalam hidupnya. Tokoh Bennypun memiliki sifat yang sama dengan kedua tokoh diatas yaitu penyabar. Penyabar akan semua ocehan yang di tumpang tindihkah oleh tokoh Mama kepada dirinya. Sifat tenang yang dimilikinyapun berpengaruh akan konflik kedua orang tuanya. Serta kedewasaanya yang membuat Benny dan Magda memiliki satu penyelesaian untuk membuat kedua orang tuanya kembali harmonis. Walaupun, diakhir cerita penyelesaian itu gagal dilakukan oleh kedua orang tuanya. Dan tokoh Benny termasuk orang yang berpasrah akan keadaan, seperti di akhir cerita kedua orang tuanya saling memutuskan hidup masing-masing. Benny hanya memasrahkan semuanya kepada kedua orang tuanya demi hal yang terbaik.
  1. Plot atau Kerangka Cerita
Plot merupakan jalinan cerita atau kerangka cerita dari awal sampai akhir. Plot berisi jalinan konflik antara dua atau lebih tokoh yang berlawanan. Secara umum, plot terdiri atas beberapa tahapan berikut ini.
a.       Exposition atau Pelukisan Awal
Pelukisan awal dalam drama Jam Dinding Yang Berdetak ini diawali dari pengenalan para tokohnya. Hal ini, terlihat pada halaman kedua, dimana penulis menuliskan beberapa nama-nama tokoh serta peran yang akan dimainkannya. Jika dilihat dari segi ceritanya, dalam drama ini terdapat pelukisan awal cerita yang dimulai dari pengenalan lattarnya hingga suasana dalam drama tersebut. Seperti pada halaman pertama, di halaman itu terlihat jelas dari petunjuk teknisnya (teks samping) yang banyak memperkenalkan mengenai alur cerita yang akan dimulai dari semua pernyataan di halaman itu. Sehingga, pembaca akan memiliki penggambarannya masing-masing mengenai awal cerita drama tersebut. Lalu, penggambaran tersebut akan terjawab dari hadirnya sekian dialog yang ditampilkan dari adegan pertama hingga akhir.
b.      Pertikaian Awal
Pertikaian awal dalam drama Jam Dinding Yang Berdetak ini dimulai dari adegan pertama. Dimana, sang Mama memulai dengan cerewetnya ketika membangunkan Benny sang putra. Di sisi lain keributan terjadi tatkala sang Papa memulainya dengan teriakan-teriakan menanyakan sesuatu pada sang istri. Seperti menanyakan dasinya, sudahkah sang istri menyemir sepatu hingga menyediakan sarapan pagi. Pertikaian awal semakin menjadi heboh ketika sang Mama yang mulai mengeluh atas hidupnya yang serba kekurangan. Hal itu terlihat pada adegan pertama, dalam halaman tujuh hingga kesepuluh. Sang Mama mulai memprotes pekerjaan Benny yang hanya sebagai pelukis. Karena bagi sang Mama, pekerjaan seorang pelukis tak menguntungkan banyak hal. Terutama uang yang dapat memuaskan kehidupannya.
c.       Klimaks
Dari sekian permasalahan yang dimunculkan, di sinilah ketegangan konflik itu terjadi. Pada adegan kedua, terlihat jelas puncak ceritanya, dimana adanya pertikaian antara sang suami dengan sang istri. Yang terlihat pada halaman 32 hingga 37. Konflik terjadi dimulai dari sifat keegoisan seorang istri terhadap hidup yang menimpanya. Sehingga, muncullah konflik yang bertubi-tubi. Hingga sang suamipun merasa kesal dengan semua perilaku dan sifat sang istri yang selama ini berubah. Hal itu pulalah yang membuat sang istri merasa menyerah dengan kehidupannya, namun di sisi lain ia tidak mau ditinggal seorang diri.
d.      Antiklimaks (Peleraian Masalah)
Dari klimaks diatas muncul sebuah penurunan penegangan konflik. Dimana, di akhir cerita, kedua tokoh utama tersebut mulai bertentangan dengan konflik yang dihadapi. Sang Papa tetap pada pendiriannya yang ingin sang Mama kembali seperti dulu lagi. Namun, tak bisa. Ia lebih memilih selingkuh dengan Wanita Gentong Bir. Sedangkan Mama, tetap dengan keegoisannya dan menunggu sang suami. Walaupun akhirnya, mereka berdua sama-sama menyadari kesalahan yang mereka perbuat. Hal itu terlihat jelas pada halaman 35 hingga 37.
e.       Penyelesaian (Akhir Cerita)
Di penyelesaian ini sebenarnya banyak hal yang dilakukan oleh kedua anaknya yaitu Benny dan Magda untuk mengembalikan kedua orang tuanya secara utuh. Walaupun sebenarnya kedua orang tuanya memang sulit untuk disatukan kembali. Namun, keharmonisan keluarga tersebut tetap terjalin. Di akhir cerita  kedua tokoh tersebut melakukan penyelesaian dengan memilih jalan masing-masing antara Mama dan Papa. Namun, disisi lain seorang Mama apalagi ia adalah seorang wanita. Pastinya masih membutuhkan sosok pria di sampingnya untuk melindungi dan menjaganya. Walaupun di bibir ia berkata rela sang suami berselingkuh dengan wanita lain. Namun, hatinya terasa tercabik-cabik.
3.      Setting atau Lattar
a.       Tempat
Pada naskah drama ini menunjukkan tempat yang menunjukkan pada sebuah rumah yang terletak di kompleks orang-orang miskin dan pensiunan. Untuk sebuah lokasi kota,, naskah ini menunjukkan daerah kota Jakarta. Hal itu terlihat dari satu adegan dimana menunjukkan suatu lokasi “Cikini” yang menunjukkan bahwa lokasi kota ataupun tempat terjadinya drama ini berada di daerah kota Jakarta.
b.      Waktu
Waktu dalam naskah drama Jam Dinding yang Berdetak ini, terbagi atas dua bagian. Pada adegan pertama, menunjukkan waktu di pagi hari kurang lebih terjadi pada pukul 07.00. Hal itu terlihat jelas ketika tokoh Mama membangunkan Benny dengan menyebutkan pukul 07.00. Sedangkan, pada adegan kedua, menunjukkan waktu di malam hari. Hal itu terlihat dari suasana yang menunjukkan waktu di malam hari.
c.         Suasana
Suasana yang terdapat pada naskah ini bermacam-macam. Pada adegan pertama muncul sebuah suasana yang cukup menjengkelkan. Karena, ocehan yang berawal dari tokoh Mama saat membangunkan Benny dari tidur lelapnya. Kemudian, adapula suasana kelucuan yang dibuat Benny saat membicarakan Oma yang sedang mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi dan lain sebagainya. Lalu, adapula suasana mengharukan ketika tokoh Papa dan Mama bernostalgia di masa lalu pada adegan kedua dengan merayakan ulang tahun pernikahan. Di samping itu, suasanapun mulai beranjak menegangkan. Tatkala hadirnya pertikaian-pertikaian kecil antara tokoh Papa dan Mama. Dan diakhir cerita ditutup dengan suasana yang mencekam di malam hari dengan khayalan tokoh Mama bahwa sang suami telah tiada akibat kecelakaan yang menimpanya dengan penyampaian sang polisi.
4.      Rumusan Masalah
Dari pemaparan karakter, kerangka cerita hingga lattar dan setting. Saya dapat merumuskan sebuah masalah pada naskah drama Jam Dinding yang Berdetak ini. Rumusan masalah tersebut, antara lain:
1.      Dilihat dari kejiwaan tokoh Mama, apa yang dirasakannya ketika banyak konflik yang menerpanya?
2.      Apa penyelesaian yang dilakukan tokoh Mama terhadap kejiwaannya dari setiap konflik yang hadir?
5.      Kajian Psikologi Pada Tokoh Mama
      Kajian psikologi ini saya titikberatkan pada tokoh Mama. Karena tokoh Mama memiliki peran yang begitu penting terhadap semua konflik cerita pada naskah drama ini. Dan juga, saya ingin mengetahui lebih jelas akan kejiwaan yang dihadapi ketika setiap konflik hadir bertumpuk pada dirinya. Maka dari itu, disini saya akan membahas beberapa kajian yang terkait akan kondisi kejiwaannya. Antara lain sebagai berikut:


1.      Konflik yang dihadapi tokoh
Ada beberapa konflik  yang dihadapi tokoh Mama dalam naskah ini. Yang paling terlihat jelas adalah permasalahan ekonomi rendah pada keluarganya. Lalu, adapula konflik yang dihadapi Mama ketika Benny sang anak menjadi seorang pelukis. Walaupun, sebenarnya Mama menerima pekerjaan sang anak. Namun, Mama menginginkan yang terbaik demi sang Anak. Lalu adapula permasalahan perbedaan pendapat anatara anak, istri dan juga suami. Sehingga muncullah konflik-konflik kecil yang semakin lama bertambah menjadi konflik yang kian membesar.
2.      Perubahan kejiwaan
Dari konflik diatas muncullah beberapa kondisi perubahan jiwa yang dihadapi tokoh Mama. Yang paling signifikan adalah perubahan jiwa yang tidak teratur. Seperti, mulai mengeluh, memiliki sifat egois dan sulit menerima sesuatu hal. Perubahan jiwa tersebut terjadi akibat setiap masalah yang timbul. Sehingga, tokoh Mama mengalami tingkat kejiwaan yang tidak teratur.
3.      Analisis tokoh Mama dalam Pendekatan Psikologi Sastra
Jika dilihat dari setiap permasalahan yang dihadapi tokoh Mama atas konflik yang dihadapinya. Tokoh Mama mulai banyak mengamali gejolak batin yang diakibatkan konflik keluarga yang menumpuk. Tokoh Mama begitu signifikan, tatkala ia adalah seorang ibu rumah tangga dengan banyak problema. Mengurusi keluarga, keuangan, masa depan anak-anaknya dan juga menyiapkan berbagai kebutuhan sandang dan pangan. Sehingga, di dalam naskah ini Mama banyak sekali menonjolkan sifat-sifat tak menyenangkan terhadap anak dan suaminya. Mungkin, hal itu dilakukannya atas dasar pemberontakkan batin yang dialaminya sebagai ibu rumah tangga karena selalu mengarah pada dirinya. Adapula kejiwaannya yang sangat miris dihadapi tokoh Mama. Yaitu ketika ia harus merelakan sang suami berselingkuh dengan wanita lain. Mungkin, ada penjelasan lain mengapa ia melakukan hal itu kepada suaminya. Karena pada dasarnya bahwa seseorang merelakan suatu hal atas dasar kebahagiaan orang lain dilakukan karena sesuatu yang ditimpanya. Tokoh Mama disini, merasa kurang terpenuhi akan kondisi ekonomi keluarga. Sehingga ia yang berperan sebagai ibu rumah tangga memiliki tanggung jawab penuh akan kondisi keluarganya. Namun, jika kondisi ekonomi juga tidak memungkinkan. Bagi seorang wanita, hal itu akan sulit dijalani. Karena, ekonomi pun berperan penting dalam membina sebuah keluarga demi terjalinnya keharmonisan dalam suatu keluarga. Namun anehnya, di dalam keluarga ini. Ekonomi yang rendahpun tetap menyatukan komunikasi diantara anak dan kedua orang tuanya. Itulah yang menyebabkan gejolak batin yang ditimbulkan dari berbagai macam masalah yang timbul terhadap dirinya dan keluarganya.


Analisis Teks Drama Jam Dinding Yang Berdetak Karya Nano Riantiarno

Nama               : Nuraeni
Nim                 : 2222111757
Kelas               : 5 C ( Diksatrasia)
Mata Kuliah    : Kajian Drama Indonesia

Nasakah  Derama “Jam Dinding yang Berdetak:  Karya Nano Riantiarno”. Menentukan Unsur Plot dan Mengkaji Dengan Pendekatan Psikologi
 Rumusan Masalah
Rumusan masalah atau hal-hal yang penulis bahas dalam makalah ini antara lain :
1.       Mengaplikasi unsur-unsur yang menjadi tolak ukur sebuah naskah drama ke dalam naskah drama Jam Dinding yang Berdetak.
2.      Menjelaskan standar mutu naskah drama secara umum dan menghubugkannya dengan naskah drama.

A.    Struktur Plot
1.      Eksposisi : Pengenalan masalah dan tokoh-tokoh lakon, dalam naskah Jam Dinding Yang Berdetak:
Cerita berawal dari sebuah keluarga di sebuah kompleks orang-orang miskin dan orang-orang pensiunan. Di sana terdapat keluarga kecil Thomas Pattiwael dan istrinya Marrie Pattiwael yang memiliki dua orang anak yaitu Magda dan Benny. Mereka juga memiliki tetangga yang sering dipanggil Oma, seorang tua yang cerewet dan senang bergosip.
            Eksposisi pada naskah drama Jam Dinding yang Berdetak dimulai dari kemunculan tokoh satu per satu.  Tokoh Mama yang berteriak-teriak  membangunkan tokoh Benny yang sedang tidur.  Kemudian disusul tokoh Papa yang sedang mencari dasi dan tokoh Magda yang baru selesai mandi.  Pemunculan masalahnya ada pada kerisauan Mama yang memikirkan nasib Benny.  Benny yang sudah susah-susah disekolahkan tinggi ternyata hanya menjadi pelukis yang belum bisa menghasilkan uang.

2.      Konflik : Masalah yang ditimbulkan dalam cerita,  berkembang menuju konflik.
Awal Konflik
Muncul permasalahan dalam naskah ini  ketika Tom pergi, karena Tom pergi ke rumah selingkuhan yang selalu di panggil ‘gentong bir’. Di sana Marrie tersinggung oleh kata-kata Benny dan pergi. Magda dan Benny berencana membuat kejutan untuk merayakan hari ulang tahun perkawinan orangtua mereka yang ke-25, Benny membuat lukisan keluarga sebagai hadiah. Mereka mengumpulkan uang untuk membeli sebotol minuman keras dengan tujuan supaya Ayah mereka diam dirumah dan juga berencana membeli kue.
Perayaan ulang tahun perkawinan Tom dan Marrie berjalan dengan khidmat, terdengar nyanyian selamat ulang tahun dan dilanjutkan dengan nyanyian gereja. Tiba-tiba Oma muncul dan bercerita tentang Christine anaknya, kemudian pergi.
3.      Kalimas atau titik puncak cerita dalam naskah derama. Jam Dinding Yang Berdetak.
  Konflik Semakin Memuncak.
Setelah perayaan, Magda dan Benny meninggalkan Tom dan Marrie berdua saja. Mereka berharap orangtua mereka kembali rukun seperti dulu. Setelah Magda dan Benny pergi, suasana kembali kaku untuk beberapa saat. Tom membuka pembicaraan dengan memperlihatkan foto ia dan Marrie ketika masih muda, Tom ingin melihat Marrie kembali mengurai rambutnya yang panjang. Marrie menolak, dan akhirnya  mengakui bahwa rambutnya telah ia potong dan dijual untuk merayakan ulang tahun perkawinan mereka. Pada awalnya ia berniat menjual jam dinding antik hadiah ulang tahun perkawinan mereka yang pertama, tetapi ia tidak tega karena jam itu satu-satunya kenangan berharga dari Tom. Tom mengalihkan pembicaraan ia meminta Marrie untuk kembali menjadi istrinya seperti dahulu, tetapi Marrie menolak. Tom tidak mau terus menerus membohongi dirinya sendiri, ia membutuhkan Marrie bukan orang lain. Sudah hampir 3 tahun Tom tidak pernah menyentuh Marrie, ia ingin malam itu Marrie melayaninya. Tetapi Marrie tetap menolak, terjadi percekcokan yang hebat antara Tom dan Marrie. Lalu Tom memutuskan untuk pergi kepelukan selingkuhannya. pada (halaman20 s/d 26)

4.       Krisis/klimaks : Mulai adanya upaya pencarian jalan keluar
Marrie menangis, Magda dan Benny pulang. Melihat Marrie yang diam saja duduk di kursi goyang dengan tatapan kosong, Magda dan Benny mengajak Marrie masuk tetapi Marrie tetap saja diam. Magda dan Benny masuk. Tinggal Marrie di luar menunggu Tom pulang hingga jam 4 dini hari.

5.      Resolusi/Anti-klimaks : Persoalan mulai diselesaikan
Tiba-tiba datang polisi yang memberitahukan bahwa mobil yang ditumpangi Tom dan selingkuhannya kecelakaan. Dan keduanya meninggal. Dan ternyata berita itu hanya mimpi. Jam dinding berdetak 5 kali, lampu padam.

B.     Struktur Bentuk Tokoh dan Penokohan
Adalah pelukisan tokoh cerita dalam naskah “Jam Dinding yang Berdetak“  dalam  keadaan  1) fisiologis meliputi: (Latar belakang fisik/ciri-ciri badani) jenis kelamin, postur tubuh, warna kulit, warna rambut, keadaan 2) psikologis (latar belakang kejiwaan) meliputi: temperamen, Intelegensi, moralitas, pandangan hidup, keadaan 3) sosiologis (latar belakang kemasyarakatan) meliputi: adat istiadat, hobby, pendidikan, status sosial dan sebagainya.
Di dalam naskah “Jam Dinding yang Berdetak“ penokohan atau perwatakan masing – masing tokoh antara lain sebagai berikut :
·         Marrie Pattiwael
1.      Secara Fisiologis     : Seorang Perempuan berusia sekitar 43 tahun,   berwajah cantik, berambut hitam panjang namun diakhir cerita dipotong menjadi pendek.
2.      Secara Sosiologis     : Istri Thomas Pattiwael, berasal dari kalangan menengah atas namun di dalam cerita sudah jatuh miskin, berpendidikan.
3.      Secara Psikologis  : cerewet, lemah dan menyembunyikan kelemahannya lewat kecerewetannya, tempramental, memperlakukan dirinya sebagai orang sakit, beragama Nasrani.
·         Thomas Pattiwael
1.      Secara Fisiologis    : Seorang laki-laki berusia sekitar 45 tahun, bertubuh gemuk.
2.      Secara Sosiologis : Suami dari Marrie Pattiwael, berasal dari kalangan menengah atas namun di dalam cerita sudah jatuh miskin, berpendidikan.
3.      Secara Psikologis  : bernafsu tinggi, tempramental, suami yang menginginkan istrinya kembali menjadi istri yang sewajarnya, beragama Nasrani.
·         Benny
1.      Secara Fisiologis    : Seorang laki-laki berusia sekitar 17 tahun
2.      Secara Sosiologis   : Anak bungsu dari Marrie dan Tom, hobby melukis, di drop out dari sekolahnya karena bertengkar dengan gurunya, berasal dari kalangan menengah atas namun di dalam cerita sudah jatuh miskin.
3.      Secara Psikologis  : tempramental, keras kepala, beragama Nasrani.

C.    Latar dan Setting
Di dalam Naskah “Jam Dinding yang Berdetak” latar dan setting adalah sebagai berikut:
Seluruh kejadian ini terjadi di salah satu rumah yang terletak di kompleks orang-orang miskin dan orang–orang pensiunan. Rumah dibagi jadi tiga  bagian tapi bersambungan satu sama lain/simultan set.
1.      Pertama-tama 
Kita melihat halaman depan, ada pohon pisang beberapa batang. Satu pohon jambu  dan satu pohon kersen,  di muka rumah ada lentera tergantung persis di atas kursi goyang dekat jendela kayu.
2.      Kedua ruang tengah
Terdapat sebuah sofa reot, permadani butut, dua  buah kursi rotan. Sebuah lemari pecah belah di sudut ruang dekat pintu. Bergordin korduray hijau lumut, sebuah lobang pintu tak berdaun pintu dari sebuah kamar tidur yang pasti sempit, sebuah jam dinding terpaku di antara sofa  megah diantara potret–potret tua, kelihatan jam itu sangat antik. Keadaan kamar itu betul-betul berantakan.
3.      Bagian ketiga
Rak piring besi yang catnya sudah mulai luntur dan karatan.  Ember berbaur dengan alat–alat lukis, cat-cat, tube-tube kosong figura-figura kanvas setengah berlukis dan lukisan-lukisan bertumpuk di satu sudut. Kita melihat dapur sama berantakannya dengan ruang tengah. Pada saat lampu  fade in kita melihat seseorang berkerudung selimut tidur di bawah sofa. Bergelung dan mendengkur, dari sebelah dapur kita mendengar ribut-ribut, hari baru pukul tujuh pagi. Matahari belum begitu panas.

D.     Kajian Psikologi Sastra
Psikologi sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan. Pengarang akan menggunakan cipta, rasa, dan karya dalam berkarya. Karya sastra yang dipandang sebagai fenomena psikologis, akan menampilkan aspek-aspek kejiwaan melalui tokoh-tokoh jika kebetulan teks berupa drama maupun prosa.
Beberapa kemungkinan kajian psikologi sastra diantaranya ialah pendekatan tekstual yang mengkaji aspek psikologis tokoh dalam karya sastra. Pengkajian aspek tekstual semula memang tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip Freud tentang psikologi dalam. Kajian psikoanalisanya mengemukakan bahwa kesadaran merupakan sebagian kecil dari kehidupan mental sedangkan bagian besarnya adalah ketaksadaran atau tak sadar.
Dalam kajian psikologi sastra, akan berusaha mengungkap psikoanalisa kepribadian yang dipandang meliputi tiga unsur kejiwaan, yaitu id, ego dan super ego. Ketiga sistem tersebut saling berkaitan serta membentuk totalitas dan tingkah laku manusia yang tak lain merupakan produk integrasi ketiganya.
Id adalah aspek kepribadian yang ‘gelap’ dalam bawah sadar manusia yang berisi insting dan nafsu-nafsu tak kenal nilai dan agaknya berupa ‘energi buta’. Ego adalah kepribadian implementatif, yaitu berupa kontak dengan dunia luar. Ego merupakan bagian ambang sadar dan kesadaran. Antara sistem tak sadar (id) dengan sistem sadar (ego) ada satu bagian yang memegang pernan penting yaitu sensor yang dinamakan super ego  yang mengontrol dorongan-dorongan ‘buta’ id tersebut. Super ego berisi nilai-nilai atau aturan yang bersifat evaluative menyangkut baik dan buruk.
E.     Tokoh Marrie Pattiwael dalam Pandangan Psikologi Freud
Cerita berawal dari sebuah keluarga di sebuah kompleks orang-orang miskin dan orang-orang pensiunan. Di sana terdapat keluarga kecil Thomas Pattiwael dan istrinya Marrie Pattiwael yang memiliki dua orang anak yaitu Magda dan Benn. Tokoh  Marrie sosok ibu yang  mencari sesuatu yang dinginkan tapi kehidupan ekonomi keluaraganya sangat  lemah, sehingga dalam runah tangganya timbulah suatu titik permasalahan,

Dalam naskah drama ini digambarkan bagaimana permasalahan/pertentangan  antara id, ego dengan super ego. Pertentangan tersebut lebih mengarah pada pertentangan perekonomian dan kepuasan. Thomas adalah lelaki yang merasa tidak mendapat kepuasan atas servis istrinya sehingga ia harus keluar untuk mendapatkannya dengan wanita lain. Sementara Marry, seorang wanita yang otaknya dipenuhi permasalahan materi. Karana, Thomas semenjang pensiun, kehidupan keluaraganya semakin kekurangan untuk makan sehari-hari pun sangat susah, sehingga tokoh Marry egois terhapat suminya itu, walau sosok Marry egois dan cerewet Merrei sosok ibu yang sanyang terhdap keluraganya, walau pun sempat tergoncang emosinya kerena permasalahan perekonomian.